Menu

Mode Gelap
Bangkitkan Ekonomi, Dewi Kumalasari Buka Dekra Fest Kepri 2023 How To Handle Every Movie Challenge With Ease Using These Tips The Most Influential People in the Green House Industry and Their Celebrity Dopplegangers Technology Awards: 6 Reasons Why They Don’t Work & What You Can Do About It

Kolom · 20 May 2023 06:35 WIB ·

Konser Coldplay; Gairah Ekonomi atau Mati Hati dan Empati?


					Performin Coldplay pada konser di Jakarta. Perbesar

Performin Coldplay pada konser di Jakarta.

www.jurnalkota.online

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban

Kembali Indonesia diguncang dengan hebohnya konser band luar negeri, Executive Vice President Secretariat and Corporate Communication BCA Hera F. Haryn menyadari tingginya antusiasme nasabah menyambut konser Coldplay di Jakarta. Sebagai official bank sponsor, pihaknya memberikan kesempatan pada nasabah BCA untuk membeli tiket terlebih dulu pada periode BCA Presale, yang akan dimulai pukul 10.00 WIB pada 17-18 Mei 2023 lalu.

Berbagai cara ditempuh masyarakat Indonesia penggemar Coldplay agar bisa mendapatkan tiketnya, meski tak sedikit netizen yang mengatakan mengapa harus repot antri dan berebut tiket war jika bisa ditonton di YouTube secara gratis. Eka, seorang guru sekolah swasta di BSD mengidolakan lirik lagu Coldplay dan mengaku siap adu mujur mendapatkan tiket konsernya. “Konsep konser Coldplay ini berbeda dengan konser lainnya, yaitu dengan menggunakan teknologi ramah lingkungan,” ujarnya ( kompas.com, 11/5/2023).

Eka mengaku akan bongkar celengan untuk dapat menonton konser Coldplay di Indonesia. Pasalnya, Coldplay dianggap band langka yang akan mampir ke Indonesia. “Coldplay memilih negara yang bebas, tidak ada masalah politik, masalah lingkungan, isu kekerasan, ras dan sebagainya, jadi tidak masalah”ujar Eka.

Tasia, seorang pegawai swasta di Jakarta Selatan juga mengaku tidak mau ketinggalan momen ini. “Sejujurnya karena FOMO, tapi emang dari dulu udah dengerin Coldplay. Terus suka liat cuplikan turnya di negara lain. Jadi pingin ngerasain euphorianya langsung,” ujar dia. Menurut Tasia, tiket di Indonesia ini relatif murah dibanding negara lain. Konser itu pengalaman once in a lifetime,” ujar dia. Tasia bahkan telah mengatur strategi untuk dapat mengamankan tiket konser. Salah satunya dengan mengumpulkan tiga teman lain agar jumlahnya mencapai maksimal pembelian tiket untuk satu akun. Ini hanya dua hal dari sekian banyak hal yang dilakukan penggemar Coldplay, bahkan lebih tak masuk akal.

Band yang terbentuk tahun 1996 juga sering dijuluki sebagai “The Most Successful Band of the 21st Century”. Memang pertama kali mengadakan konser di Indonesia. Meski tiket konsernya dibanderol rentang harga Rp 800.000 sampai Rp 11 juta, tak mnyurutkan antusiasme penggemarnya . Sebagai gambaran, harga tiket tertinggi Coldplay ini bahkan lebih tinggi dari harga tiket termahal untuk konser Blackpink seharga Rp 3,8 juta. Dan sebagai tambahan, Harga-harga itu belum termasuk pajak hiburan sebesar 15 persen dan biaya layanan sebesar 5 persen.

Artinya di Indonesia ini banyak orang kaya atau banyak orang stres yang merasa harus terpenuhi dengan hiburan ini meski harganya melangit? Ketika banyak yang mengeluhkan tarif pajak yang tinggi, Direktur Peraturan Perpajakan I Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama menjelaskan, bahwa Ditjen Pajak tidak mengatur pengenaan pajak untuk hiburan termasuk dalam penjualan tiket konser Coldplay.

Sesuai dengan aturan Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (UU HKPD). Daerah atau pusat, artinya tetap sama bahwa negara mendapatkan pemasukan dari pajak atas hadirnya band asal London, Inggris ini. Pemerintah juga memaknai konser Coldplay sebagai sebuah kepercayaan internasional kepada Indonesia setelah dapat menggelar konser Blackpink beberapa waktu lalu.

Tak dapat dipungkiri, konser ini juga akan menggerakan ekonomi Indonesia, salah satunya dengan pergerakan wisatawan dalam negeri. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yakin, konser Coldplay ini akan meningkatkan jumlah wisatawan. “Optimistis akan meningkatkan jumlah wisatawan, membawa berkah ekonomi dan lapangan pekerjaan, khususnya bagi para pelaku event dan pelaku ekonomi kreatif,” ujarnya.

Pasalnya, penggemar Coldplay juga akan datang dari berbagai penjuru Indonesia. Pergerakan ini tentu saja berdampak untuk ekonomi, salah satunya terhadap tingkat okupansi hotel. Hal itu diamini oleh Wakil Ketua Umum Bidang Hotel Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Iswandi Said yang mengatakan selama konser Blackpink, tingkat hunian hotel di sekitar Stadiun Gelora Bung Karno tumbuh 20-30 persen sedangkan saat Konser Coldplay “Music of the Spheres World Tour Jakarta” sekurang-kurangnya akan menjual 50.000 tiket dari total kapasitas Stadion Umum Gelora Bung Karno yang mencapai 77.000 (kompas.com, 12/5/2023).

Hilangkan Kepekaan Demi Sebuah Hiburan

Meski ada beberapa keluhan penonton namun penyelenggaraan konser bisa dibilang sukses. Miris! Hal ini justru menunjukkan matinya empati penyelenggara dan pihak pemberi ijin terhadap penderitaan sesama yang ditimpa berbagai problem kehidupan. Mengingat acara ini bukan kebutuhan asasi. Di sisi lain, antusiasisme masyarakat membuktikan tingginya kesenjangan kesejahteraan.

Berapa banyak di negeri ini yang dengan royal bisa menghabiskan 11 juta rupiah dalam semalam? Garis Kemiskinan pada September 2022 tercatat sebesar Rp535.547,00/kapita/ bulan (bos.go.id, 16/1/2023). Dengan nominal kurang dari satu juta rupiah, penduduk negeri ini masih dibebani dengan biaya hidup yang tinggi, kebutuhan bahan pokok yang harganya pun melambung tinggi terutama menjelang perayaan keagamaan atau pergantian tahun.

Namun, kapitalisme yang menjadi dasar pengaturan masyarakat hari ini memang meniscayakan hal ini, logika dipaksa menerima kebenaran” Siapa yang bermodal dia menguasai” . Sekilas memang benar, apapun di dunia ini butuh modal agar bisa produktif. Namun, ketika Allah SWT menciptakan setiap individu berbeda, baik fisik maupun rezekinya tentu bukan tanpa maksud. Allah SWT berfirman, “..supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu..” (Qs al-Hasy:7).

Ayat di atas memang terkait pembagian fa’i atau harta hasil rampasan perang, namun tetap mengandung makna umum yaitu wajib ada pihak yang memastikan adanya pembagian harta secara adil. Siapa lagi jika tidak mengacu pada negara dan penguasanya? Inilah yang saat ini sulit dipraktikkan, sehingga angka kemiskinan kian meningkat meski pemerintah telah berusaha dengan banyak instrumen mengentaskannya.

Peran negara dalam sistem kapitalisme sangatlah dibatasi, dengan anggapan pasar adalah untuk para pemodal atau investor. Ketika berhubungan dengan hajat hidup orang banyak, disinilah terjadi persoalan, perhitungan untung rugi menjadi mengemuka, yang ada mereka yang lemah yang menjadi obyek penderita.

Islam Mengatur Hiburan Tanpa Menzalimi

Islam mengatur bagaimana seorang Muslim menikmati hidup sekaligus memiliki empati atas nasib sesama. Islam juga mengajarkan skala prioritas atas amal dalam kehidupan, sehingga kita mengenal hukum sebuah perbuatan itu wajib, sunnah, mubah, makruh atau malah haram. Hal ini dengan tujuan semakin memberikan kenikmatan bagi pelakunya, sebab tak ada lagi rasa berat tindakannya menzalimi sesama sekaligus menjadi pahala bagi dirinya.

Allah SWT berfirman, “Thaha. Tidaklah Kami turunkan Alquran kepadamu untuk memberatkanmu. Melainkan sebagai pengingat bagi siapa saja yang takut (kepada Allah).” (Q.s. Thaha: 1–3). Di ayat kedua, Qatadah menjelaskan, “Demi Allah! Dia tak membuat (manusia) susah. Akan tetapi Dia menjadikannya rahmat dan cahaya serta petunjuk menuju surga.” (Tafsir Ibnu Katsir, 5:272). Maka, pengaturan syariat ini dimaksudkan agar manusia benar-benar merasakan nikmat atas karunia Allah SWT. Dan ini tidak bisa diterapkan jika kapitalisme masih dijadikan sebagai dasar pengaturan, ibarat air dan minyak, keduanya tak bisa bersatu.

Disinilah yang sangat membedakan dengan sistem yang lain yang ada di dunia, dimana Islam mewajibkan negaralah yang menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi atas setiap individu. S bagaimana sabda Rasulullah saw,”Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus.” (HR al-Bukhari dan Ahmad). Di tangan pemimpin yang bertakwa inilah seluruh kebutuhan asasi rakyat dipenuhi, pembiayaan pemenuhan itu di dapat dari Baitulmal, satu lembaga dalam negara yang bertugas menyimpan hasil pengelolaan kekayaan kaum Muslim berupa kepemilikan umum dan negara yang kemudian disalurkan kepada yang berhak.

Negara juga tidak akan menjadikan gairah ekonomi meningkat melalui konser-konser ataupun pariwisata, sungguh sangat rendah! Eksploitasi ini jelas diharamkan, pendapatan negara jelas dari apa yang diijinkan syar’i untuk dikelola kemudian disimpan di Baitulmal. Rakyat bukan komoditas, rakyat adalah amanah yang harus diurusi negara dengan baik.

Sehingga ketimpangan tidak akan terjadi, kaya dan miskin sama-sama bisaa mengakses dengan mudah kebutuhan pokok mereka seperti kesehatan, pendidikan, keamanan, sandang, pangan dan papan. Mereka yang tinggal di desa tidak harus ke kota untuk menikmati keadilan berbagai fasilitas umum ini, sebab negara menyediakan dengan kualitas yang sama dan terbaik.

Pemenuhan fasilitas umum untuk rekreasi dan hiburan disediakan oleh negara dengan tetap memperhatikan standar syariat, seperti tidak ikhtilat, kholwat, mengandung simbol-simbol kafir, berisi kegiatan zina, merusak ekosistem, produksi makanan dan minuman halal dan lainnya. Sebab,haram hukumnya menjadikan sesuatu yang mubah menjadi wajib. Wallahu a’lam bish showab.**

Artikel ini telah dibaca 35 kali

Baca Lainnya

Program Indonesia Pintar, Siapa Yang Jadi Semakin Pintar ?

15 February 2024 - 07:42 WIB

Potret Buram Generasi, Membunuh Jadi Solusi

13 February 2024 - 07:33 WIB

Ilusi Orientasi Mahasiswa Entrepreuner dengan Mall UMKM USU

6 February 2024 - 17:22 WIB

UU PDP, Perlindungan Data Masih Ada Masalah, Mengapa?

4 February 2024 - 04:43 WIB

Peringatan Hari Gizi Nasional, Bukan Hanya Masalah Stunting

28 January 2024 - 09:05 WIB

Strategi Offensif dan Defensif, Efektifkah Jika Masih Demokrasi?

20 January 2024 - 11:58 WIB

Trending di Kolom